MASJID RA’YAH

Tempat Rasulullah meletakkan bendera Islam. Ini simbol kemenangan, simbol tegaknya tauhid. Ingatkan jamaah bahwa kemenangan Islam bukan semata pedang, tapi keyakinan, kesabaran, dan perjuangan akhlak. “Râye” dalam bahasa Arab berarti “panji” atau bendera perang. Masjid ini terletak berhadapan langsung dengan Mescidü’ş-Şecere, dan memiliki nilai sejarah penting karena menjadi lokasi tempat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menancapkan panjinya saat menaklukkan kota Mekah.

Pada hari Fathu Makkah (Penaklukan Mekah), Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang ke tempat ini bersama pasukan kaum Muhajirin dan Anshar. Ketika itu, Sa‘d bin ‘Ubadah r.a. membawa panji (râye) dan menancapkannya di lokasi tempat masjid ini berdiri sekarang. Oleh karena itulah, dibangunlah masjid di tempat ini sebagai tabarruk, dan diberi nama: Mescidü’r-Râye (Masjid Panji)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم Menancapkan Panji & Shalat Tahiyyatul Masjid: Rasulullah صلى الله عليه وسلم, pada hari penaklukan Mekah, menancapkan panjinya di tempat ini dan kemudian melaksanakan dua rakaat shalat tahiyyat al-masjid. Sejak masa setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم) Asr al-Sa‘adah), para peziarah yang datang ke Mekah biasanya mengunjungi Mescid Jin terlebih dahulu, kemudian mereka meneruskan ke Mescidü’r Râye untuk melaksanakan dua rakaat shalat, dan kembali. Menurut riwayat Imam Azraqî, masjid ini pertama kali dibangun oleh Abdullah bin ‘Ubaydullah, seorang keturunan dari Ibnu ‘Abbas r.a., dan di masa setelahnya masjid ini diperbaiki dan diperkuat kembali oleh para penerusnya.

Kesedihan Rasulullah صلى الله عليه وسلم Saat Hicrah dari Mekah: Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم melakukan hijrah, beliau melintasi bagian bawah kota Mekah. Di satu tempat yang disebut Hazwarah, beliau menghentikan untanya. Di sana, beliau menatap kota Mekah dengan penuh rasa sedih, dan bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya engkau (wahai Mekah) adalah negeri Allah yang paling baik dan paling aku cintai. Sekiranya aku tidak diusir darimu, aku tidak akan pernah keluar. Tidak ada tempat yang lebih indah dan lebih aku cintai darimu. Kalau kaumku tidak mengusirku, aku tidak akan mencari tempat tinggal selain di engkau.”

Turunnya Wahyu Penghibur: Lalu Allah Ta‘ala menurunkan wahyu kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai penghibur dan janji kepastian kembali:

 اِنَّ الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لَرَاۤدُّكَ اِلٰى مَعَادٍ ۗ قُلْ رَّبِّيْٓ اَعْلَمُ مَنْ جَاۤءَ بِالْهُدٰى وَمَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

“Sesungguhnya (Allah) yang telah mewajibkan kepadamu (menjalankan hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (Mekah). Katakanlah: ‘Tuhanku lebih mengetahui siapa yang membawa petunjuk dan siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (Surah Al-Qasas: 85)

Terpenuhinya Janji Ilahi: Rasulullah صلى الله عليه وسلم Kembali ke Mekah: Delapan tahun setelah peristiwa hijrah itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم kembali memasuki kota Mekah sebagai pemenang dan pembebas. Beliau memasang tenda dari kulit di daerah Hacûn, dekat makam Sayyidah Khadijah r.a. Dari tenda itu, beliau memandang kota Mekah dengan mata yang basah dan hati yang dalam. Kota yang dulu memaksanya pergi, kini diserahkannya sepenuhnya dalam keadaan tunduk, seolah-olah berkata: “Wahai kota yang aku tinggalkan dengan air mata, kini aku kembali padamu dengan kalimat Allah dan para malaikat sebagai penolong.” Itulah puncak penggenapan janji Allah: Rasulullah صلى الله عليه وسلم kembali ke tanah kelahiran beliau dengan kemenangan dan kemuliaan, bukan sebagai orang terusir, melainkan sebagai pembebas dan pemimpin umat.

About Abdul Jalil

Diamku الله Gerakku مُحَمَّد. Wong Lamongan, S1 di Psikologi UGM. I'm free man & traveler. Kontak: 085733188530
This entry was posted in Konten. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *