KALAU MAU GAK PUSING, SERAHIN KE ALLAH

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
.اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah swt. Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada allah swt, dengan menjalankan segala perintah nya dan menjauhi segala larangan-nya. Karena hanya dengan takwa, hidup kita mendapat cahaya dari allah, urusan kita dimudahkan oleh allah, dan hati kita ditenangkan oleh allah.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Pernahkah kita merasa… sudah berusaha keras, tapi hasilnya tidak sesuai? Sudah berdoa. Sudah sabar. Sudah ikhtiar. Tapi pikiran tetap tidak tenang. Dada tetap terasa sesak. Seolah ada beban yang tidak pernah benar benar pergi. Padahal mungkin… bukan bebannya yang terlalu berat. Tapi kita belum benar-benar berserah kepada-nya.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Kita ini hidup di zaman yang aneh. Semakin banyak cara, tapi semakin banyak pusingnya. Semakin banyak informasi, semakin banyak kebingungannya. Semakin banyak pilihan, semakin sulit juga mengambil keputusan. Dan di tengah semua itu, kita bawa sendiri. Kita pikul sendiri. Kita coba selesaikan sendiri. Pagi sudah memikirkan kerjaan. Siang masih memikirkan kerjaan. Malam seharusnya istirahat, tapi kepala kita masih terus berpikir keras. Menghitung. Mengkhawatirkan. Mencari jalan keluar yang belum ketemu. Dan kita lelah. Bukan lelah yang bisa hilang dengan tidur. Tapi lelah yang sudah tinggal di dalam diri kita sejak lama.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Ada satu hal yang mungkin jarang kita sadari. Kita itu tidak pernah benar-benar berhenti memegang kendali. Kita bilang percaya kepada allah. Kita bilang yakin allah yang mengatur. Tapi tangan kita tidak pernah benar-benar melepaskan. Kita shalat, lalu setelah salam kita langsung kembali menanggung semuanya sendiri. Seolah allah hanya hadir di atas sajadah. Seolah setelah itu, urusan kembali ke tangan kita. Dan di situlah lelah itu lahir. Bukan karena hidup ini terlalu berat. Tapi karena kita terlalu lama membawanya sendirian.

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا 

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada allah, niscaya allah akan mencukupkan keperluan-nya. Sesungguhnya allahlah yang menuntaskan urusan-nya. Sungguh, allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3) 

Perhatikan kata Allah di sana. Bukan “mungkin Allah akan mencukupkan.” bukan kalau beruntung.” tapi niscaya. Pasti. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah kita melakukan bagian kita. Pertanyaannya adalah: sudahkah kita benar-benar berserah? Kalau belum, apa yang membuat kita masih menahan? Dan kalau kita mau mulai menyerahkan, dari mana seharusnya kita mulai?

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Kita sulit berserah bukan karena kita tidak percaya allah. Kita percaya. Tapi ada sesuatu di dalam diri kita yang lebih dalam dari sekadar keyakinan. Namanya kebiasaan memegang kendali. Sejak kecil, kita diajarkan bahwa hasil tergantung usaha. Semakin keras bekerja, semakin besar hasilnya. Dan itu tidak salah. Tapi tanpa kita sadari, kita tumbuh dengan keyakinan bahwa semuanya ada di tangan kita.

Maka ketika ada masalah, naluri pertama kita adalah: pikir sendiri. Selesaikan sendiri. Jangan sampai kelihatan lemah. Dan kita lupa bahwa meminta kepada allah bukan tanda kelemahan. Itu justru tanda kecerdasan tertinggi seorang hamba. Ada kisah yang mungkin kita pernah dengar. Nabi zakariya as. Beliau dan istrinya sudah tua. Dokter di zamannya sudah angkat tangan. Tidak mungkin punya anak. Tapi beliau tidak berhenti di sana. Beliau mengangkat tangan dalam shalatnya. Bukan kepada dokter. Bukan kepada manusia. Tapi kepada allah yang tidak punya batas dalam pemberian.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ 

Di sanalah zakaria berdoa kepada tuhannya. Dia berkata, “ya tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-mu. Sungguh, engkau maha mendengar doa.” (QS. Ali ‘imran: 38) 

Belum selesai doanya, Allah sudah menjawab. Di ayat berikutnya langsung turun kabar gembira dari malaikat. Seorang anak laki-laki, dengan nama yang allah pilihkan sendiri: yahya. Yang mustahil menurut manusia, mudah bagi allah. Yang buntu menurut kita, punya seribu jalan di sisi Allah. Pertanyaannya bukan apakah allah bisa. Pertanyaannya: apakah kita sudah benar-benar datang kepada-nya?

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Kalau tawakal adalah kuncinya, maka shalat adalah pintu masuknya. Kita shalat lima kali sehari. Tapi coba kita jujur. Berapa kali kita benar-benar hadir di dalamnya? Badan di sajadah. Mulut membaca. Tapi pikiran sedang di kantor, di rumah, di masalah yang belum selesai. Shalat kita sah secara fikih. Tapi kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sahnya shalat. Kita kehilangan momen berbicara langsung dengan Allah. Padahal allah memerintahkan shalat bukan sekadar untuk gerakan dan bacaan. Ada tujuan yang lebih dalam dari itu.

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 

“Sesungguhnya aku adalah allah, tidak ada tuhan selain aku. Maka, sembahlah aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-ku.” (QS. Thaha: 14)

Shalatlah untuk mengingat aku. Bukan untuk menggugurkan kewajiban. Bukan untuk sekadar dapat pahala. Tapi untuk hadir, terhubung, dan berbicara langsung dengan allah. Karena ketika koneksi itu nyata, ketika kita benar-benar hadir dalam shalat, sesuatu berubah di dalam dada. Beban yang kita pikul terasa ringan. Bukan karena masalahnya hilang. Tapi karena kita tidak sendirian lagi menanggungnya. Dan dari shalat yang sungguh-sungguh itulah tawakal yang sejati lahir. Bukan tawakal di mulut. Tapi tawakal yang mengalir dari keyakinan bahwa allah memang sedang mengurus hidup kita.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Ada kesalahpahaman yang sering kita pegang soal tawakal. Sebagian dari kita berpikir tawakal itu artinya berhenti berusaha. Serahkan saja ke allah, nanti allah yang urus. Lalu kita duduk, menunggu, dan bertanya-tanya kenapa tidak ada yang berubah. Bukan begitu cara tawakal bekerja. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat anas bin malik radhiyallahu anhu:

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ«اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ». 

“Berkata seseorang kepada nabi shallallahu alaihi wasallam: wahai rasulullah apakah saya meninggalkan unta tanpa diikat kemudian bertawakkal atau saya perlu mengikanya kemudian bertawakkal? Beliau menjawab : ikatlah kemudian engkau bertawakkal”. (HR. Sunan at-Tirmidzi) 

Ikat dulu. Usaha dulu. Lakukan bagian yang memang ada di tangan kita. Setelah itu, barulah serahkan hasilnya kepada allah. Tawakal bukan pengganti usaha. Tawakal adalah mahkota dari usaha. Kita kerja dengan sungguh-sungguh, lalu kita serahkan hasilnya kepada allah. Kita jaga kesehatan dengan benar, lalu kita serahkan umur kita kepada allah. Kita didik anak dengan penuh cinta, lalu kita serahkan hidayah mereka kepada allah. Di titik itulah pusing itu mulai pergi. Bukan karena semua masalah sudah selesai. Tapi karena kita sudah tidak menanggung bagian yang bukan milik kita. Tugas kita adalah berusaha. Tugas allah adalah menentukan hasilnya. Jangan tukar peran itu.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Bagaimana kita tahu tawakal kita sudah benar? Tandanya sederhana. Hati kita tidak berguncang terlalu keras ketika hasil tidak sesuai harapan. Kita kecewa, itu wajar. Kita sedih, itu manusiawi. Tapi kita tidak hancur. Karena di dalam kita ada keyakinan yang kokoh: allah yang mengatur. Dan allah tidak pernah salah dalam mengatur.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Kita tidak tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita hanya tahu apa yang kita inginkan. Dan dua hal itu sering tidak sama. Maka ketika doa kita belum terjawab, ketika rencana kita tidak berjalan, ketika usaha kita belum berbuah, bisa jadi allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang kita minta. Orang yang bertawakal tidak pusing dengan jawaban allah. Mereka hanya terus berdoa, terus berusaha, dan menyerahkan hasilnya dengan lapang dada. Dan orang seperti inilah yang allah janjikan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan cara apapun.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ 

“Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) 

Bukan dengan uang hati menjadi tenteram. Bukan dengan jabatan. Bukan dengan selesainya semua masalah. Tapi dengan mengingat allah. Dan ingat allah yang paling dalam, paling nyata, paling terasa, adalah ketika kita berdiri di hadapan-nya dalam shalat dengan hati yang sungguh-sungguh hadir.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Izinkan khatib menyampaikan satu hal sebelum kita mengakhiri khutbah ini. Jika hari ini kita pulang dengan satu hal saja, biarlah itu ini: hidup tidak harus selalu kita pikul sendiri. Allah ada. Allah mendengar. Allah mengatur. Dan allah tidak pernah tidur. Yang perlu kita lakukan hanyalah dua hal. Lakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Lalu serahkan hasilnya kepada allah dengan ikhlas. Maka mulai hari ini, coba kita ubah satu kebiasaan.

Ketika ada masalah yang datang, sebelum kita pikir panjang, sebelum kita khawatir berlebihan, datanglah dulu kepada allah dalam shalat. Bukan shalat yang terburu-buru. Tapi shalat yang sungguh-sungguh hadir. Karena di situlah tempat paling aman untuk meletakkan semua beban. Di hadapan allah yang maha kuasa, maha tahu, dan maha sayang kepada hamba-nya. Semoga allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai berserah. Yang berusaha dengan sungguh-sungguh dan bertawakal dengan sepenuh hati.

Barakallahu lii walakum fil qur’aanil ‘azhiim. Wa nafa’anaa wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wadzdzikril hakiim. Wa taqabbalallahu minnaa wa minkum tilaawatah. Innahu huwal ghafuurur rahiim.

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah swt. Marilah kita kembali menguatkan ketakwaan kita kepada allah. Karena hanya orang yang bertakwa yang benar-benar merasakan manisnya tawakal.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قُلُوبًا مُطْمَئِنَّةً، وَنُفُوسًا رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ، وَنُورًا كُلَّ صَدَاقَةٍ عَلَيْكَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaan wa iitaa-i dzil qurbaa. Wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi. Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun. Fadzkuruullaha yadzkurkum. Wasykuruuhu ‘alaa ni’amih. Wa ladzikrullahi akbar. Wallahu ya’lamu maa tashna’uun.

About Abdul Jalil

Diamku الله Gerakku مُحَمَّد. Wong Lamongan, S1 di Psikologi UGM. I'm free man & traveler. Kontak: 085733188530
This entry was posted in KHUTBAH. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *