Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah segala kebaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, para tamu Allah yang saya hormati dan muliakan. Selamat datang di Tanah Suci, di bumi para Nabi. Atas nama,……… TRAVEL, saya Ustadz Abdul Jalil selaku tour leader, mengucapkan selamat datang dan selamat tiba di kota Jeddah, gerbang menuju dua kota suci. Perjalanan panjang dari tanah air telah kita lalui bersama. Rasa lelah mungkin ada, tapi InsyaAllah semua itu menjadi bagian dari perjuangan kita untuk memenuhi panggilan Allah. Mari kita luruskan kembali niat kita. Kita datang ke sini semata-mata karena Allah, untuk beribadah kepada-Nya, mengharapkan ridha dan ampunan-Nya.”
Bagian 2: Sekilas Tentang Jeddah (Setelah sekitar 10-15 menit perjalanan) “Bapak dan Ibu sekalian, saat ini kita sedang melintasi kota Jeddah. Izinkan kami berbagi sedikit tentang kota istimewa yang menjadi titik awal perjalanan kita ini. Jeddah bukan sekadar kota transit, ia memiliki sejarah dan peran yang sangat penting, khususnya bagi kita sebagai tamu Allah.
1. Pintu Gerbang Dua Kota Suci (Al-Haramain) Fungsi utama Jeddah bagi kita adalah sebagai ‘Bawwabat al- Haramain’, atau Pintu Gerbang Dua Kota Suci. Sejak ratusan tahun yang lalu, kota inilah yang pertama kali menyambut para tamu Allah yang datang dari seluruh penjuru dunia melalui jalur laut. Dan kini, melalui jalur udara, Bandara Internasional King Abdulaziz yang baru saja kita tinggalkan, menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia, terutama saat musim haji dan umrah. Rasakanlah, kita sedang menapaki jalan yang sama seperti jutaan umat Islam dari generasi-generasi sebelum kita.
2. Nama ‘Jeddah‘ dan Julukannya . Nama ‘Jeddah‘ sendiri memiliki beberapa makna yang indah. Ada yang mengatakan berasal dari kata ‘Jaddah‘ yang berarti ‘Nenek’. Ini merujuk pada sebuah riwayat atau kepercayaan turun-temurun bahwa makam Ibunda umat manusia, Siti Hawa (Eve), berada di kota ini. Meskipun secara arkeologis dan syar’i hal ini tidak dapat dipastikan, kisah ini telah melekat pada sejarah kota. Pendapat lain yang lebih kuat mengatakan namanya berasal dari
kata ‘Juddah’ yang berarti ‘Tepi Laut’ atau pesisir, yang sangat sesuai dengan lokasinya di pinggir Laut Merah. Namun, julukan yang paling puitis untuk kota ini adalah ‘Arus al-Bahr al-Ahmar’, yang artinya ‘Pengantin Laut Merah’. Mengapa disebut pengantin? Karena keindahannya, posisinya yang strategis di tepi laut, dan bagaimana kota ini seakan ‘didandani’ dengan gedung-gedung modern, lampu-lampu yang gemerlap di malam hari, serta menjadi pusat perdagangan dan budaya yang dinamis.
3. Peran Sejarah dalam Islam. Peran Jeddah sebagai pelabuhan utama bagi jamaah haji ditetapkan secara resmi pada masa Khalifah ketiga, yaitu Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, sekitar tahun 647 Masehi. Beliaulah yang memindahkan pelabuhan resmi untuk Makkah dari pelabuhan lama yang bernama Shu’aybah ke Jeddah, karena lokasinya yang lebih strategis dan lebih dekat. Jadi, peran mulia yang dijalankan kota ini sudah berlangsung selama lebih dari 1400 tahun.
4. Sekilas Pemandangan Kota Modern. Meskipun kita hanya melintas, Bapak dan Ibu mungkin akan melihat sekilas Jeddah sebagai kota yang sangat modern dan kosmopolitan. Ia adalah kota terbesar kedua di Arab Saudi setelah Riyadh. Di sepanjang pesisirnya yang indah, yang dikenal dengan nama Corniche, terdapat berbagai karya seni publik, area rekreasi, dan masjid-masjid yang megah. Salah satu ikonnya yang terkenal adalah Masjid Ar-Rahmah yang dijuluki Masjid Terapung, dan Air Mancur Raja Fahd (King Fahd’s Fountain), yang pernah menjadi air mancur tertinggi di dunia.
Penutup Transisi ke Perjalanan Spiritual. Namun, bagi kita, para tamu Allah, keistimewaan terbesar Jeddah hari ini bukanlah pada gedung-gedung pencakar langitnya atau keindahan pantainya. Keistimewaan terbesarnya adalah perannya sebagai titik awal; starting point, dari perjalanan spiritual kita menuju Baitullah. Dari gerbang dunia ini, kita perlahan-lahan meninggalkan hiruk pikuknya untuk segera memasuki kesucian Tanah Haram. InsyaAllah, perjalanan kita dari Jeddah menuju Makkah akan memakan waktu kurang lebih 1.5 hingga 2 jam, Mari kita manfaatkan sisa perjalanan ini untuk terus mempersiapkan hati kita, membersihkan jiwa kita, dan memperbanyak zikir serta talbiyah. tergantung kondisi lalu lintas. Manfaatkan waktu ini untuk beristirahat sejenak, sambil terus menjaga hati dan lisan kita.
Bagian 3: Memasuki Miqat & Memperbanyak Talbiyah (Saat mendekati atau melewati batas Miqat) “Para jamaah yang dirahmati Allah, sebentar lagi kita akan melewati atau berada di area miqat, yaitu batas di mana kita wajib memulai niat umrah dan mengenakan pakaian ihram kita. Sebagian besar dari kita sudah berniat dan mengenakan ihram sejak di atas pesawat, maka mari kita perbarui dan perkuat niat kita di dalam hati. Mulai saat ini, mari kita basahi lisan kita dengan kalimat agung yang menjadi syiar ibadah umrah kita, yaitu Talbiyah. Mari kita ucapkan bersama-sama dengan penuh semangat dan penghayatan.” (Pimpin jamaah melantunkan Talbiyah. Ulangi beberapa kali dengan jeda) “Labbaikallahumma labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika lak.” Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
Bapak dan Ibu, mari kita rasakan makna dari setiap kalimat yang kita ucapkan. Kita sedang menjawab panggilan dari Sang Pencipta. Kita tinggalkan keluarga, pekerjaan, dan tanah air kita untuk menyatakan, “Ya Allah, aku datang’. (Beri jeda sejenak, biarkan jamaah meresapi. Anda bisa memutar rekaman Talbiyah dengan suara pelan di audio bus).
Bagian 4: Muqaddimah Makkah (Saat perjalanan tersisa sekitar 30- 45 menit) “Jamaah sekalian, di hadapan kita terbentang jalan menuju kota yang paling dicintai Allah, kota kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu Makkah Al-Mukarramah. Makkah bukanlah kota biasa. Ini adalah Tanah Haram, tanah yang suci. Di sini, setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Shalat di Masjidil Haram, pahalanya 100.000 kali lebih baik daripada shalat di masjid lain. Kota ini adalah saksi bisu perjuangan para Nabi, mulai dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail, hingga perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Setiap jengkal tanah yang akan kita pijak nanti memiliki sejarah dan keutamaannya.
Sebentar lagi, mata kita akan menyaksikan kiblat seluruh umat Islam di dunia, Ka’bah Al-Musyarrafah. Bagi sebagian dari kita, ini mungkin pertemuan pertama. Bersiaplah, Bapak dan Ibu. Banyak orang merasakan getaran yang luar biasa, air mata yang tak terbendung, dan kedamaian yang tak terlukiskan saat pertama kali memandang Ka’bah. Siapkan doa terbaik Kita, karena itu adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa.
Bagian 5: Penutup dan Instruksi Praktis (Saat mulai memasuki kota Makkah) Alhamdulillah, kita sudah mulai memasuki batas kota Makkah. Mari kita lihat sekeliling kita, inilah kota yang kita rindukan dalam setiap shalat kita. Bapak dan Ibu, sesampainya di hotel nanti, kita akan melakukan proses check-in dan pembagian kunci kamar. Saya mohon Bapak dan Ibu untuk tetap tenang dan mengikuti arahan. Setelah masuk ke kamar, kita letakkan barang-barang dulu, beristirahat sejenak, dan bersiap untuk menyempurnakan ibadah umrah kita.
Kita akan berkumpul kembali di lobi pada pukul [Sebutkan waktu yang direncanakan] untuk bersama-sama menuju Masjidil Haram. Pastikan semua dalam keadaan suci dan siap. Ingat, larangan-larangan ihram masih berlaku sampai kita menyelesaikan seluruh rangkaian umrah. Mari kita tutup pengantar ini dengan berdoa kepada Allah. Semoga Allah menerima perjalanan kita, memudahkan seluruh urusan kita, dan menganugerahkan kita semua umrah yang mabrur.” (Tutup dengan doa singkat) “Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.