KALAU MAU GAK PUSING, SERAHIN KE ALLAH

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
.اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah swt. Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada allah swt, dengan menjalankan segala perintah nya dan menjauhi segala larangan-nya. Karena hanya dengan takwa, hidup kita mendapat cahaya dari allah, urusan kita dimudahkan oleh allah, dan hati kita ditenangkan oleh allah.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Pernahkah kita merasa… sudah berusaha keras, tapi hasilnya tidak sesuai? Sudah berdoa. Sudah sabar. Sudah ikhtiar. Tapi pikiran tetap tidak tenang. Dada tetap terasa sesak. Seolah ada beban yang tidak pernah benar benar pergi. Padahal mungkin… bukan bebannya yang terlalu berat. Tapi kita belum benar-benar berserah kepada-nya.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Kita ini hidup di zaman yang aneh. Semakin banyak cara, tapi semakin banyak pusingnya. Semakin banyak informasi, semakin banyak kebingungannya. Semakin banyak pilihan, semakin sulit juga mengambil keputusan. Dan di tengah semua itu, kita bawa sendiri. Kita pikul sendiri. Kita coba selesaikan sendiri. Pagi sudah memikirkan kerjaan. Siang masih memikirkan kerjaan. Malam seharusnya istirahat, tapi kepala kita masih terus berpikir keras. Menghitung. Mengkhawatirkan. Mencari jalan keluar yang belum ketemu. Dan kita lelah. Bukan lelah yang bisa hilang dengan tidur. Tapi lelah yang sudah tinggal di dalam diri kita sejak lama.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Ada satu hal yang mungkin jarang kita sadari. Kita itu tidak pernah benar-benar berhenti memegang kendali. Kita bilang percaya kepada allah. Kita bilang yakin allah yang mengatur. Tapi tangan kita tidak pernah benar-benar melepaskan. Kita shalat, lalu setelah salam kita langsung kembali menanggung semuanya sendiri. Seolah allah hanya hadir di atas sajadah. Seolah setelah itu, urusan kembali ke tangan kita. Dan di situlah lelah itu lahir. Bukan karena hidup ini terlalu berat. Tapi karena kita terlalu lama membawanya sendirian.

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا 

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada allah, niscaya allah akan mencukupkan keperluan-nya. Sesungguhnya allahlah yang menuntaskan urusan-nya. Sungguh, allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3) 

Perhatikan kata Allah di sana. Bukan “mungkin Allah akan mencukupkan.” bukan kalau beruntung.” tapi niscaya. Pasti. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah kita melakukan bagian kita. Pertanyaannya adalah: sudahkah kita benar-benar berserah? Kalau belum, apa yang membuat kita masih menahan? Dan kalau kita mau mulai menyerahkan, dari mana seharusnya kita mulai?

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Kita sulit berserah bukan karena kita tidak percaya allah. Kita percaya. Tapi ada sesuatu di dalam diri kita yang lebih dalam dari sekadar keyakinan. Namanya kebiasaan memegang kendali. Sejak kecil, kita diajarkan bahwa hasil tergantung usaha. Semakin keras bekerja, semakin besar hasilnya. Dan itu tidak salah. Tapi tanpa kita sadari, kita tumbuh dengan keyakinan bahwa semuanya ada di tangan kita.

Maka ketika ada masalah, naluri pertama kita adalah: pikir sendiri. Selesaikan sendiri. Jangan sampai kelihatan lemah. Dan kita lupa bahwa meminta kepada allah bukan tanda kelemahan. Itu justru tanda kecerdasan tertinggi seorang hamba. Ada kisah yang mungkin kita pernah dengar. Nabi zakariya as. Beliau dan istrinya sudah tua. Dokter di zamannya sudah angkat tangan. Tidak mungkin punya anak. Tapi beliau tidak berhenti di sana. Beliau mengangkat tangan dalam shalatnya. Bukan kepada dokter. Bukan kepada manusia. Tapi kepada allah yang tidak punya batas dalam pemberian.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ 

Di sanalah zakaria berdoa kepada tuhannya. Dia berkata, “ya tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-mu. Sungguh, engkau maha mendengar doa.” (QS. Ali ‘imran: 38) 

Belum selesai doanya, Allah sudah menjawab. Di ayat berikutnya langsung turun kabar gembira dari malaikat. Seorang anak laki-laki, dengan nama yang allah pilihkan sendiri: yahya. Yang mustahil menurut manusia, mudah bagi allah. Yang buntu menurut kita, punya seribu jalan di sisi Allah. Pertanyaannya bukan apakah allah bisa. Pertanyaannya: apakah kita sudah benar-benar datang kepada-nya?

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Kalau tawakal adalah kuncinya, maka shalat adalah pintu masuknya. Kita shalat lima kali sehari. Tapi coba kita jujur. Berapa kali kita benar-benar hadir di dalamnya? Badan di sajadah. Mulut membaca. Tapi pikiran sedang di kantor, di rumah, di masalah yang belum selesai. Shalat kita sah secara fikih. Tapi kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sahnya shalat. Kita kehilangan momen berbicara langsung dengan Allah. Padahal allah memerintahkan shalat bukan sekadar untuk gerakan dan bacaan. Ada tujuan yang lebih dalam dari itu.

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 

“Sesungguhnya aku adalah allah, tidak ada tuhan selain aku. Maka, sembahlah aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-ku.” (QS. Thaha: 14)

Shalatlah untuk mengingat aku. Bukan untuk menggugurkan kewajiban. Bukan untuk sekadar dapat pahala. Tapi untuk hadir, terhubung, dan berbicara langsung dengan allah. Karena ketika koneksi itu nyata, ketika kita benar-benar hadir dalam shalat, sesuatu berubah di dalam dada. Beban yang kita pikul terasa ringan. Bukan karena masalahnya hilang. Tapi karena kita tidak sendirian lagi menanggungnya. Dan dari shalat yang sungguh-sungguh itulah tawakal yang sejati lahir. Bukan tawakal di mulut. Tapi tawakal yang mengalir dari keyakinan bahwa allah memang sedang mengurus hidup kita.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Ada kesalahpahaman yang sering kita pegang soal tawakal. Sebagian dari kita berpikir tawakal itu artinya berhenti berusaha. Serahkan saja ke allah, nanti allah yang urus. Lalu kita duduk, menunggu, dan bertanya-tanya kenapa tidak ada yang berubah. Bukan begitu cara tawakal bekerja. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat anas bin malik radhiyallahu anhu:

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ«اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ». 

“Berkata seseorang kepada nabi shallallahu alaihi wasallam: wahai rasulullah apakah saya meninggalkan unta tanpa diikat kemudian bertawakkal atau saya perlu mengikanya kemudian bertawakkal? Beliau menjawab : ikatlah kemudian engkau bertawakkal”. (HR. Sunan at-Tirmidzi) 

Ikat dulu. Usaha dulu. Lakukan bagian yang memang ada di tangan kita. Setelah itu, barulah serahkan hasilnya kepada allah. Tawakal bukan pengganti usaha. Tawakal adalah mahkota dari usaha. Kita kerja dengan sungguh-sungguh, lalu kita serahkan hasilnya kepada allah. Kita jaga kesehatan dengan benar, lalu kita serahkan umur kita kepada allah. Kita didik anak dengan penuh cinta, lalu kita serahkan hidayah mereka kepada allah. Di titik itulah pusing itu mulai pergi. Bukan karena semua masalah sudah selesai. Tapi karena kita sudah tidak menanggung bagian yang bukan milik kita. Tugas kita adalah berusaha. Tugas allah adalah menentukan hasilnya. Jangan tukar peran itu.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Bagaimana kita tahu tawakal kita sudah benar? Tandanya sederhana. Hati kita tidak berguncang terlalu keras ketika hasil tidak sesuai harapan. Kita kecewa, itu wajar. Kita sedih, itu manusiawi. Tapi kita tidak hancur. Karena di dalam kita ada keyakinan yang kokoh: allah yang mengatur. Dan allah tidak pernah salah dalam mengatur.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Kita tidak tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita hanya tahu apa yang kita inginkan. Dan dua hal itu sering tidak sama. Maka ketika doa kita belum terjawab, ketika rencana kita tidak berjalan, ketika usaha kita belum berbuah, bisa jadi allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang kita minta. Orang yang bertawakal tidak pusing dengan jawaban allah. Mereka hanya terus berdoa, terus berusaha, dan menyerahkan hasilnya dengan lapang dada. Dan orang seperti inilah yang allah janjikan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan cara apapun.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ 

“Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) 

Bukan dengan uang hati menjadi tenteram. Bukan dengan jabatan. Bukan dengan selesainya semua masalah. Tapi dengan mengingat allah. Dan ingat allah yang paling dalam, paling nyata, paling terasa, adalah ketika kita berdiri di hadapan-nya dalam shalat dengan hati yang sungguh-sungguh hadir.

Jamaah yang dirahmati Allah swt. Izinkan khatib menyampaikan satu hal sebelum kita mengakhiri khutbah ini. Jika hari ini kita pulang dengan satu hal saja, biarlah itu ini: hidup tidak harus selalu kita pikul sendiri. Allah ada. Allah mendengar. Allah mengatur. Dan allah tidak pernah tidur. Yang perlu kita lakukan hanyalah dua hal. Lakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Lalu serahkan hasilnya kepada allah dengan ikhlas. Maka mulai hari ini, coba kita ubah satu kebiasaan.

Ketika ada masalah yang datang, sebelum kita pikir panjang, sebelum kita khawatir berlebihan, datanglah dulu kepada allah dalam shalat. Bukan shalat yang terburu-buru. Tapi shalat yang sungguh-sungguh hadir. Karena di situlah tempat paling aman untuk meletakkan semua beban. Di hadapan allah yang maha kuasa, maha tahu, dan maha sayang kepada hamba-nya. Semoga allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai berserah. Yang berusaha dengan sungguh-sungguh dan bertawakal dengan sepenuh hati.

Barakallahu lii walakum fil qur’aanil ‘azhiim. Wa nafa’anaa wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wadzdzikril hakiim. Wa taqabbalallahu minnaa wa minkum tilaawatah. Innahu huwal ghafuurur rahiim.

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah swt. Marilah kita kembali menguatkan ketakwaan kita kepada allah. Karena hanya orang yang bertakwa yang benar-benar merasakan manisnya tawakal.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قُلُوبًا مُطْمَئِنَّةً، وَنُفُوسًا رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ، وَنُورًا كُلَّ صَدَاقَةٍ عَلَيْكَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaan wa iitaa-i dzil qurbaa. Wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi. Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun. Fadzkuruullaha yadzkurkum. Wasykuruuhu ‘alaa ni’amih. Wa ladzikrullahi akbar. Wallahu ya’lamu maa tashna’uun.

Posted in KHUTBAH | Leave a comment

RUMAH KELAHIRAN NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم

Sesuai waktu yang diumumkan dalam program harian, rombongan laki-laki dan perempuan berkumpul di depan Rumah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tempat kelahiran Nabi, dan area sekitarnya diperkenalkan. Pada masa Jahiliyah, manusia telah menjadi begitu liar hingga sanggup mengubur anak mereka sendiri; bagian dari tubuh mereka sendiri, hidup-hidup dalam tanah. Dunia sangat memerlukan seorang pembimbing hidayah. Di tempat yang penuh berkah ini, ketika dunia sedang tercekik dalam kegelapan dan kesesatan, lahirlah Nabi Muhammad al-Mustafa صلى الله عليه وسلم, yang telah dijanjikan oleh seluruh nabi sebelumnya, sebagai cahaya bagi semesta alam.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم dilahirkan pada tahun 571 M, pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal, menjelang fajar, di lingkungan Bani Hasyim, di rumah ayahandanya, Abdullah. Dalam kalender Masehi, tanggal itu bertepatan dengan 20 April. Pada saat kelahiran, tugas kebidanan dilakukan oleh Syifa Hatun, ibu dari Abdurrahman bin Auf. Fatimah, ibu dari Utsman bin Abi al-‘Ash r.a, dan pengasuh Nabi, Ummu Aiman r.a, juga membantu. Fatimah yang hadir pada malam itu berkata: “Aku melihat rumah dipenuhi cahaya, dan bintang-bintang seakan turun menimpa kami.” Rasulullah صلى الله عليه وسلم, segera setelah lahir, bersujud dan berkata: “Ummatii, ummatii” (Umatku, umatku). Beliau mengangkat jari telunjuk ke langit dan mengucapkan: “Laa ilaaha illallah, inni Rasulullah.” Kisah ini diriwayatkan oleh bibi Nabi, Sayyidah Shafiyyah r.a.

Kisah Ibu Nabi, Sayyidah Aminah r.ha: Sayyidah Aminah r.a berkata: “Aku tidak mengalami kesulitan seperti para wanita lain saat mengandung. Dalam mimpiku aku diberitahu: ‘Engkau sedang mengandung manusia terbaik dan pemimpin umat ini. Ketika engkau melahirkannya, beri ia nama Muhammad.’ Saat waktunya tiba, aku mendengar suara aneh di telingaku, aku merasa takut. Tiba-tiba datang seekor burung putih yang menyentuh punggungku dengan sayapnya. Ketakutan dan rasa cemas dalam diriku langsung hilang. Kemudian aku melihat sekelilingku, ternyata aku dikelilingi oleh wanita-wanita tinggi yang wajah mereka bercahaya, seperti wanita dari Bani Abdi Manaf. Salah satu dari mereka menopang tubuhku dari belakang.

Aku sangat haus. Lalu salah seorang dari mereka datang mendekat dan memberikan padaku sebuah mangkuk putih berisi minuman. Setelah aku meminumnya, tubuhku terasa dipenuhi cahaya. Minuman itu lebih putih dari susu, lebih dingin dari salju, dan lebih manis dari madu. Pada saat itulah Muhammad صلى الله عليه وسلم lahir. Wanita-wanita itu kemudian memperkenalkan diri. Mereka berkata: ‘Aku adalah Asiyah, isteri Fir’aun; yang ini adalah Maryam, ibu Isa (a.s), dan yang lainnya adalah para bidadari dari surga.”

Peristiwa Besar yang Terjadi pada Hari Senin, Imam Ahmad bin Hanbal (rahimahullah) dalam kitab Musnad-nya meriwayatkan: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم lahir pada hari Senin. Beliau meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya juga pada
hari Senin. Wahyu pertama turun pada hari Senin. Beliau hijrah dari Mekah pada hari Senin. Dan wafatnya pun terjadi pada hari Senin.”

Keajaiban Semesta di Malam Kelahiran Nabi صلى الله عليه وسلم Pada malam saat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dilahirkan, terjadi berbagai kejadian luar biasa di berbagai belahan dunia:
1. Seluruh berhala yang ada di sekitar Ka’bah roboh dan jatuh tertelungkup.
2. Tiang-tiang istana Kisra (penguasa Persia) runtuh.
3. Api yang disembah oleh kaum Majusi selama seribu tahun padam secara tiba-tiba.
4. Danau Sâwah yang selama ini tidak pernah kering, airnya surut dan hilang.
5. Lembah Samawa di jazirah Arab, yang sebelumnya kering, justru dilanda banjir.

Saat peristiwa ini terjadi, bahkan Raja Persia, Kisra Anusyirwan, menjadi sangat gelisah dan ketakutan karena menyadari bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar. Ummul Mu’minin Aisyah r.a berkata: “Di Mekah, ada seorang pedagang Yahudi. Pagi setelah malam kelahiran Rasulullah صلى الله عليه وسلم, ia mendatangi kaum Quraisy, di antaranya ada Hisyam bin Mughirah, Walid bin Mughirah, Utbah bin Rabi’ah, dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya. Ia bertanya: “Apakah tadi malam ada anak yang lahir dari salah seorang kalian? Mereka menjawab: ‘Ya. Anak dari Abdullah bin Abdul Muthalib lahir, dan dinamai Muhammad.’ Mendengar itu, Yahudi tersebut berkata: ‘Itulah nabi terakhir yang kami tunggu-tunggu. Di antara kedua tulang belikatnya terdapat tanda kenabian berwarna kemerahan dan ditumbuhi bulu. Itu adalah ciri kenabiannya.’ Maka kaum Quraisy pun mengajak Yahudi itu menemui Aminah. Ketika ia melihat bayi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan melihat tanda di punggungnya, ia langsung pingsan dan tak sadarkan diri. Setelah ia sadar, mereka bertanya:
‘Apa yang membuatmu seperti ini?’ Ia menjawab: ‘Kenabian telah diangkat dari Bani Israil. Kitab suci pun telah diambil dari tangan mereka. Mereka tidak akan memiliki nabi lagi, dan ulama mereka pun akan kehilangan kehormatan. Ini adalah pengumuman kematian bagi mereka. Bangsa Arab akan mendapat kemenangan dan kejayaan. Berita tentang mereka akan sampai ke seluruh dunia.”

Kebahagiaan Abdul Muthalib & Pemberian Nama “Muhammad”. Abdul Muthalib, kakek Nabi, saat itu sedang duduk di dekat Ka’bah bersama putranya Abu Thalib dan para pemuka Quraisy. Ketika mendengar kabar bahwa putranya (Abdullah) telah mendapat anak lelaki, ia sangat bergembira dan langsung berdiri. Ia pergi bersama rombongan menuju rumah Aminah, dan menggendong cucunya yang wajahnya memancarkan cahaya. Ia membawanya kembali ke Ka’bah, bersujud kepada Allah, dan bersyukur atas anugerah luar biasa ini.

Pada hari ketujuh kelahiran, Abdul Muthalib mengadakan jamuan besar: menyembelih unta dan kambing, dan memberi makan penduduk Mekah selama tiga hari berturut-turut. Ia juga memerintahkan pemotongan hewan di setiap kawasan kota agar semua orang termasuk manusia, hewan buas, dan burung ikut menikmati. Ketika orang-orang bertanya kepadanya: “Apa nama bayi ini?” Ia menjawab: “Muhammad.” Mereka berkata: “Mengapa tidak memberi nama seperti leluhurmu?” Abdul Muthalib menjawab: “Agar dia dipuji di langit dan di bumi.

Nama-nama Indah Rasulullah صلى الله عليه وسلم Nama-nama paling terkenal dan sering disebut dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah: Muhammad, Ahmad, Mustafa, dan Mahmûd. Di dalam Al-Qur’an, beliau juga disebut dengan banyak nama mulia lainnya, seperti: Rasul, Nabi, Syahid (Saksi), Mubassyir (Pembawa kabar gembira), Nadzir (Pemberi peringatan), Ra’uf, Rahim, Musaddiq, Mudzakkir, Muddatsir, Rahmat, Nikmat, Hadi (Pemberi petunjuk), Nur, Mubin (Yang jelas), Yasin, Taha, Abdullah, Da’i ilallah (Yang mengajak kepada Allah), Siraj Munir (Pelita yang menerangi), dan Khatamun Nabiyyin (Penutup para nabi). Di Masjid Nabawi, pada dinding bagian kiblat, tertulis 204 nama mulia Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Isa a.s. berkata kepada Bani Israil: “Wahai Bani Israil, aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab Taurat
sebelumku, dan memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang setelahku, namanya Ahmad.” (QS. Ash-Shaff: 6). Kunyah (julukan kehormatan) Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah Abul Qasim dinisbatkan kepada putra beliau yang bernama Qasim (yang wafat semasa kecil). Masyarakat Mekah mengenal beliau sebagai al-Amîn (yang terpercaya), karena kejujurannya yang luar biasa.

Masa Kecil & Rumah Tangga Nabi صلى الله عليه وسلم. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghabiskan masa kecil dan remajanya di lingkungan Bani Hasyim, di rumah Abu Thalib (pamannya). Pada usia 25 tahun, beliau menikahi Sayyidah Khadijah r.a., dan pindah ke rumah istrinya yang terletak dekat Bukit Marwah. Di rumah inilah lahirnya 4 putri dan 2 putra beliau dari Sayyidah Khadijah. Selama 7–10 tahun setelah bi’tsah (kenabian), umat Islam mengalami pemboikotan total oleh Quraisy, baik secara ekonomi maupun sosial, di Lembah Abu Thalib. Namun, meski lapar dan terasing, mereka tidak pernah meninggalkan keimanan mereka. Surat perjanjian boikot yang digantung di Ka’bah akhirnya hancur oleh seekor serangga, yang memakan semua tulisan kecuali nama Allah. Maka boikot pun berakhir.

Jabal Abu Qubais – Gunung Suci di Mekah. Terletak di samping Bukit Shafa, dikenal dengan sebutan Ummul Jibal (Induk Gunung). Mukjizat Terbelahnya Bulan Pada tahun ke-8 kenabian, orang-orang Quraisy menantang Rasulullah صلى الله عليه وسلم: “Jika engkau benar-benar seorang nabi, tunjukkan mukjizat dari langit! Belahlah bulan itu!” Maka pada malam tanggal 15 bulan (bulan purnama), Rasulullah صلى الله عليه وسلم naik ke atas Gunung Abu Qubais. Beliau shalat dua rakaat, lalu mengangkat jari telunjuk ke langit. Bulan pun terbelah dua: satu bagian berada di balik Jabal Abu Qubais, dan satu lagi ke arah utara, di balik Bukit Bani Qaynuqa’. Lalu keduanya kembali bersatu. Orang Quraisy tetap tidak percaya. Mereka berkata: “Mungkin ini sihir. Kita tunggu kabar dari luar kota!” Dan benar, keesokan harinya datang kabar dari para kafilah bahwa bulan memang
terbelah pada malam itu. Allah mengabadikan kejadian itu dalam QS. Al-Qamar: 1:
“Kiamat telah dekat, dan bulan pun telah terbelah.”

Hajar Aswad Pernah Disimpan di Gunung Ini. Saat banjir besar di masa Nabi Nuh a.s., Ka’bah diangkat ke langit oleh Allah, dan Hajar Aswad disimpan oleh Malaikat Jibril di Gunung Abu Qubais. Ketika Nabi Ibrahim a.s. membangun kembali Ka’bah bersama putranya Ismail a.s., mereka membutuhkan sebuah batu penanda untuk mulai dan mengakhiri thawaf. Ismail mencari batu, tapi tak ada yang cocok. Tiba-tiba terdengar suara dari gunung: “Wahai Ibrahim, datanglah kepadaku! Titipan / amanahmu ada padaku!” Maka Ibrahim mengambil kembali Hajar Aswad dari gunung ini dan meletakkannya di tempat yang sekarang. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda: “Hajar Aswad turun dari surga. Dahulu lebih putih dari susu, namun dosa-dosa manusia menjadikannya hitam.”

Posted in Konten | 4 Comments