Tempat Nabi صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar r.a. bersembunyi selama 3 hari saat hijrah. Tempat Persembunyian Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam Hijrah: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersembunyi di Gua Tsur Pada malam Kamis, di penghujung bulan Shafar, tahun 622 Masehi, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendatangi rumah Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. untuk memulai perjalanan hijrah. Beliau keluar bersama Abu Bakar melalui pintu kecil di belakang rumah, dan mulai menempuh jalan ke arah barat daya kota Mekah, menuju Jabal Tsur, gunung yang berjarak sekitar 5 km dari kota.
Di tengah perjalanan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم sempat berjalan tanpa alas kaki. Tapak beliau pun lecet dan terasa nyeri. Abu Bakar r.a. terus menerus bergantian berjalan di depan dan di belakang Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ketika Nabi bertanya, “Wahai Abu Bakar, mengapa engkau bolak-balik begitu?” Abu Bakar menjawab, “Aku ingin mengawasi ke depan dan ke belakang, agar bisa menjagamu dari segala arah.”
Saat tiba di mulut gua Tsur dalam gelap malam, Abu Bakar berkata: “Demi Allah, jangan masuk dulu, ya Rasulullah, sebelum aku periksa dulu isi gua ini. Jika ada sesuatu yang berbahaya, biarlah aku yang terkena, bukan engkau.” Abu Bakar masuk terlebih dahulu. Ia meraba-raba dan merapikan tempatnya dengan tangan. Ia mendapat sebuah lubang, lalu merobek bajunya untuk menyumbatnya. Bagian sisa dari lubang itu ia tutup dengan telapak kakinya. Setelah semuanya aman, ia mempersilakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم masuk. Nabi pun masuk dan meletakkan kepala beliau di pangkuan Abu Bakar, lalu tertidur.
ABU BAKAR DIGIGIT ULAR SAAT MENUTUP LUBANG: Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم tertidur dalam pangkuan Abu Bakar r.a., tiba-tiba seekor ular keluar dari lubang yang sedang ditutup dengan kaki Abu Bakar. Ular itu menggigit kakinya. Namun Abu Bakar tidak bergerak sedikit pun, karena khawatir akan membangunkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari tidur beliau yang lelap. Rasa sakitnya sangat luar biasa hingga air mata Abu Bakar jatuh membasahi wajah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Saat tetesan air mata itu menyentuh wajah beliau, Nabi صلى الله عليه وسلم terbangun. Beliau bertanya: “Wahai Abu Bakar, apa yang terjadi padamu?” Abu Bakar menjawab: “Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusan bagimu, aku baru saja digigit ular!” Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم meludahi tempat yang tergigit, dan atas izin Allah, seketika itu juga rasa sakit dan luka di kaki Abu Bakar hilang total, sebagai salah satu dari mukjizat Nabi صلى الله عليه وسلم.
Catatan Ulama: Sebagian ulama menyebut bahwa sebagai tanda dari kejadian ini, sebagian keturunan Abu Bakar r.a. memiliki tanda lahir (noda/cap kecil) di telapak kaki sebagai warisan dari peristiwa bersejarah ini.
PENGECEKAN MUSHRIKIN & MUKJIZAT DI MULUT GUA
Rencana Pembunuhan oleh Kaum Musyrikin: Malam itu, kaum musyrikin telah sepakat untuk membunuh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Mereka membagi tugas: setiap kabilah mengirim satu orang pemuda, lalu mereka bersama-sama menyerbu rumah Nabi صلى الله عليه وسلم dan membunuh beliau saat tidur. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengetahui rencana ini. Maka beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib r.a. untuk tidur di tempat tidurnya, guna mengecoh para pembunuh. Saat fajar menyingsing, para musyrikin menyerbu masuk dan mendapapi Ali r.a. yang bangkit dari tempat tidur.
Mereka bertanya, “Di mana Muhammad?” Ali menjawab: “Aku tidak tahu. Kalian sendiri yang mengusirnya keluar dari kota ini!” Tak berhasil menemukan Nabi صلى الله عليه وسلم di rumahnya, mereka pun mendatangi rumah Abu Bakar r.a. Ketika putrinya, Asma’ binti Abu Bakar, keluar rumah, mereka bertanya dengan kasar, “Hai putri Abu Bakar! Di mana ayahmu?” Asma’ menjawab dengan tenang, “Demi Allah, aku tidak tahu.” Mendengar itu, Abu Jahl, yang geram, menampar wajah Asma’ dengan keras hingga antinngnya terlepas dari telinga.
Sayembara 100 Ekor Unta: Kaum Quraisy mengumumkan sayembara: “Barang siapa yang bisa membawa Muhammad dan Abu Bakar, hidup atau mati, akan mendapat 100 ekor unta!” Pencarian besar-besaran dimulai. Gunung-gunung sekitar Mekah digeledah. Dua orang pelacak profesional disewa, ditemani Alkama dari Bani Mudlij, seorang pelacak jejak terbaik. Mereka berhasil mengikuti jejak Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga mencapai dekat gua Tsur. Alkama berkata: “Demi Allah! Jejaknya berhenti di sini. Mereka tidak mungkin melewati tempat ini.” Hanya 40 langkah jaraknya dari mulut gua tempat Nabi صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar bersembunyi.
KETIKA MUKJIZAT TERJADI DI MULUT GUA
Dialog Abu Bakar dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم : Saat kaum musyrikin mendekat, Abu Bakar r.a. gemetar, khawatir musuh melihat ke dalam gua. Ia berbisik pada Rasulullah صلى الله عليه وسلم: “Ya Rasulullah, jika salah satu dari mereka menundukkan pandangannya ke bawah, niscaya mereka akan melihat kita!” Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم menenangkan Abu Bakar dengan kalimat legendaris yang abadi hingga kini: لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (At-Taubah: 40). Kemudian Allah menurunkan ketenangan (sakînah) ke dalam hati Abu Bakar dan memperkuat keduanya dengan pasukan malaikat yang tak terlihat.
Mukjizat Laba-laba dan Burung Merpati: Saat itu juga, atas izin Allah: 1.) Seekor laba-laba diperintahkan untuk segera menenun jaring tebal menutupi mulut gua. 2.) Sepasang burung merpati liar datang dan bertelur di dekat pintu gua. Ketika para musyrikin tiba dan melihat sarang laba-laba yang tidak rusak serta dua burung merpati yang bertengger dengan tenang, mereka berkata: “Tak mungkin ada orang masuk ke gua ini. Kalau ada, pasti jaring laba-laba rusak dan burung ini lari.” Salah satu dari mereka, Umayyah bin Khalaf, berkata: “Jaring ini begitu tua, bahkan lebih tua dari Muhammad itu sendiri! Mana mungkin dia ada di dalam?” Akhirnya mereka pun pergi tanpa pernah menyadari bahwa jarak antara mereka dan Nabi صلى الله عليه وسلم hanyalah beberapa langkah.
Ayat Al-Qur’an tentang Peristiwa Ini: اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا “Tatkala keduanya berada dalam gua, dan Muhammad berkata kepada sahabatnya: ‘Jangan bersedih. Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)
TIGA HARI PENUH CAHAYA DAN TAKTIK DI GUA TSUR: Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar r.a. di Gua Tsur Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar r.a. masuk ke dalam Gua Tsur pada malam Kamis, tanggal 1 Rabi‘ul Awwal. Mereka bersembunyi selama tiga malam penuh: Jumat malam, Sabtu malam, dan Ahad malam. Selama masa persembunyian itu, taktik cerdas dan logistik rahasia dijalankan oleh orang-orang terpercaya dari keluarga Abu Bakar:
Tugas Abdullah bin Abu Bakar: Intelijen Harian: Anak laki-laki Abu Bakar, Abdullah bin Abu Bakar, memiliki tugas penting: 1.) Siang hari, ia berbaur dengan masyarakat Mekah, menggali informasi, dan berpura-pura seperti biasa. 2.) Saat malam tiba, ia diam-diam mendaki ke gua, menyampaikan laporan terbaru kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan ayahnya. 3.) Saat fajar menyingsing, ia kembali ke Mekah seolah-olah bermalam di rumah.
Tugas Asma’ binti Abu Bakar: Logistik Rahasia: Putri Abu Bakar, Asma’ r.a., setiap malam: Membawa perbekalan makanan dan air ke mulut gua. Untuk menyembunyikan arah dan jejaknya, ia tidak membawa tali atau wadah besar. Saat itu, Asma’ tidak membawa pengikat, sehingga ia merobek ikat pinggangnya menjadi dua: 1. Satu untuk mengikat makanan, 2. Satu untuk mengikat tempat air. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendoakannya: “Engkau akan mendapat dua ikat pinggang di surga, wahai Asma’!” Karena itu ia dikenal sebagai: ذات النطاقين Dzatun-Nithaqain (Perempuan Dua Ikat Pinggang)
Tugas Amir bin Fuhairah: Penghapus Jejak: Budak yang telah dimerdekakan Abu Bakar, ‘Amir bin Fuhairah, menggembalakan kambing Abu Bakar: 1.) Malam hari, ia menggiring kambingnya ke mulut gua untuk menyusui Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar. 2.) Susu tersebut dipanaskan dengan batu yang dipanaskan di bawah sinar matahari. 3.) Sebelum fajar, ia kembali ke Mekah, dan menghapus jejak kaki Abdullah dan Asma’ dengan gerakan kawanan kambingnya.
Saat Pengejaran Mereda… Selama tiga hari itu, intensitas pencarian mulai mereda. Lalu, saat subuh hari Senin, 4 Rabi‘ul Awwal, datanglah Abdullah bin Uraiqith, seorang non-Muslim yang ahli rute dan dipercaya oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai pemandu perjalanan ke Madinah. Ia membawa dua ekor unta yang telah disiapkan oleh Abu Bakar dari sebelumnya.
KEBERANGKATAN DARI GUA TSUR & CINTA NABI صلى الله عليه وسلم PADA MEKAH: Rasulullah صلى الله عليه وسلم Membeli Untanya Sendiri: Pada pagi hari Senin, 4 Rabi‘ul Awwal, Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar r.a. keluar dari gua menuju kaki Gunung Tsur, tempat Abdullah bin Uraiqith, sang pemandu telah menunggu dengan membawa dua unta. Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, ini untaku. Tunggangan ini untukmu. Silakan naiki.” Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم menolak begitu saja. “Aku tidak akan menaiki unta yang bukan milikku,” sabda beliau. Abu Bakar r.a. berkata: “Aku membelinya untukmu, ya Rasulullah.” Lalu disebutkan bahwa unta itu dibeli seharga 800 dirham dari orang-orang Bani Harits. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menerima unta itu dan membayarnya kepada Abu Bakar r.a. sebesar 400 dirham, dan unta itu kemudian dinamakan: القصواء – ‘Kaswâ. Unta inilah yang menjadi kendaraan hijrah beliau menuju Madinah, dan akan menjadi tunggangan utama Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga akhir hayat.
Abu Bakar Membawa Pelayan: ‘Amir bin Fuhairah: Untuk melayani beliau selama perjalanan hijrah, Abu Bakar r.a. membawa pelayannya, ‘Amir bin Fuhairah. Maka berangkatlah rombongan: 1.) Rasulullah صلى الله عليه وسلم menaiki Kaswâ’, 2.) Abu Bakar menaiki unta satunya, 3.) Pemandu jalan di depan mereka adalah Abdullah bin Uraiqith, walau saat itu belum masuk Islam, namun dipercaya sepenuhnya karena kejujurannya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم Menatap Mekah untuk Terakhir Kalinya: Ketika rombongan ini melewati wilayah Hazwarah, yaitu dataran rendah di selatan Mekah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menoleh ke arah kota Mekah dan menatapnya lama dengan mata berkaca-kaca…. Lalu beliau bersabda dengan suara penuh kerinduan: “Demi Allah! Sesungguhnya engkau (wahai Mekah) adalah negeri Allah yang paling baik, dan negeri yang paling aku cintai. Andai bukan karena kaummu mengusirku darimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Tangisan hijrah Nabi bukan karena lemah, tapi karena cinta sejati kepada tanah suci yang akan beliau tinggalkan demi menegakkan kalimat tauhid.
Ayat Turun tentang Janji Allah untuk Mengembalikan Nabi ke Mekah: اِنَّ الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لَرَاۤدُّكَ اِلٰى مَعَادٍ “Sesungguhnya Dzat yang telah mewajibkan Al-Qur’an kepadamu, benar-benar akan mengembalikan engkau ke tempat kembali (Mekah).” (QS. Al-Qashas: 85) Dan benar, 8 tahun kemudian, Nabi صلى الله عليه وسلم kembali ke Mekah dalam Fathul Makkah sebagai pemenang!
SURAQAH BIN MALIK & KEAJAIBAN DI PADANG PASIR:
Latar Belakang: Sayembara 100 Ekor Unta: Setelah kaum Quraisy menyebarkan sayembara besar: “Siapa pun yang bisa menangkap Muhammad dan Abu Bakar, hidup atau mati akan diberi 100 ekor unta!” Berita ini tersebar luas hingga ke pedalaman. Maka bangkitlah Suraqah bin Malik, seorang Quraisy yang gagah, tangkas, dan dikenal sebagai pelacak ulung. Dengan cepat, ia menyiapkan kudanya, mengenakan senjata, dan memacu kuda menyusuri arah selatan jalur yang ia curigai sebagai rute hijrah Nabi صلى الله عليه وسلم.
Keajaiban Pertama: Kudanya Tersungkur: Suraqah berhasil menyusul rombongan Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga ia bisa melihat langsung mereka dari kejauhan, bahkan mendengar bacaan Al-Qur’an Nabi صلى الله عليه وسلم. Tapi anehnya… Kudanya tiba-tiba tersungkur dan menjatuhkannya ke pasir. Ia terkejut, berdiri lagi, menaiki kudanya, dan kembali mengejar. Namun… Kaki kudanya tenggelam ke dalam tanah hingga lutut, seperti terhisap oleh pasir hidup. Suraqah ketakutan. Ia mencoba mengangkat kaki kuda, tapi semakin dalam.
Dialog Menggetarkan Jiwa: Suraqah akhirnya berteriak: “Wahai Muhammad! Demi Allah, aku tahu ini bukan sihir! Ini benar-benar dari Tuhanmu! Doakan aku selamat, aku tidak akan menyentuh kalian!” Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata: “Pergilah, dan sembunyikan kedatangan kami dari siapa pun.” Suraqah pun memohon agar diberi jaminan perlindungan (aman) secara tertulis. Abu Bakar r.a. memerintahkan ‘Amir bin Fuhairah menuliskan surat itu di atas sepotong kulit. Suraqah menyimpannya di tabung anak panahnya, lalu berbalik arah dan pergi.
Dari Pengejar Menjadi Pelindung: Suraqah menepati janjinya: 1.) Ia tidak memberitahu satu pun orang bahwa ia telah melihat Nabi Muhammad. 2. Ia menyesal telah berniat jahat. 3.) Kelak, ia masuk Islam dengan tulus, dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Suatu hari, wahai Suraqah, engkau akan memakai gelang-gelang Kisra (raja Persia).” Dan… hal itu terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab r.a. Ketika Persia ditaklukkan, Umar menyerahkan gelang-gelang emas Kisra kepada Suraqah, sesuai nubuwah Rasulullah صلى الله عليه وسلم
PERTEMUAN DENGAN TALHAH & ZUBAIR
Pertemuan di Wilayah Harrar: Dalam perjalanan menuju Madinah, keesokan harinya setelah melewati wilayah Harrâr, Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar r.a. bertemu dengan dua sahabat besar: Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam (radiyallahu ‘anhumâ) Keduanya sedang dalam perjalanan pulang dari berdagang ke Syam bersama rombongan kafilah.
Pakaian dari Syam: Melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar dalam keadaan berpakaian lusuh dan berdebu, Talhah dan Zubair langsung memberikan masing-masing dari mereka pakaian bersih dari Syam, yaitu sejenis jubah (ma’shaf) berwarna putih. Ini adalah bentuk takzim dan cinta sahabat yang luar biasa kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, meskipun mereka belum tahu persis apa yang telah terjadi sebelumnya di Mekah.
Berita Tentang Jamaah Madinah: Mereka juga menyampaikan bahwa: “Kaum muslimin di Madinah sudah sangat menanti-nantikan kedatanganmu wahai Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Namun sebagian dari mereka berkata, ‘Mengapa beliau belum juga tiba?” Berita ini membuat Rasulullah صلى الله عليه وسلم mempercepat perjalanan dan menyiapkan hati untuk menyambut umat yang telah rindu menanti.
BURAYDAH BIN HUSAIB MASUK ISLAM DI TENGAH GURUN
Awalnya Hendak Menangkap Nabi صلى الله عليه وسلم : Buraidah bin Husaib, seorang pemimpin dari Bani Aslam, mendengar tentang sayembara Quraisy yang menjanjikan 100 ekor unta bagi siapa saja yang bisa menangkap Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar r.a. Tergiur dengan tawaran itu, ia segera berkuda dengan 70 pengikut bersenjata menuju arah hijrah Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Pertemuan dan Dialog: Ketika rombongan mereka berhasil menyusul Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya di wilayah Amīm, terjadilah pertemuan yang damai. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak gentar. Beliau bertanya: “Siapa kamu?” Buraidah menjawab: “Aku Buraidah.” Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun tersenyum dan menoleh ke Abu Bakar r.a., seraya bersabda: “Urusan kita telah menjadi sejuk.” (Karena ‘Buraidah’ berasal dari kata ‘bard’ yang artinya ‘dingin/sejuk’) Beliau bertanya lagi: “Dari kabilah mana?” “Aslam,” jawab Buraidah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Kita telah selamat.” (Karena Aslam berarti ‘berserah diri’ / Muslim)vDitanya lebih lanjut: “Dari cabang mana?” “Suhm,” jawabnya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Anak panah telah lepas.” (Suhm berarti anak panah yang dilepaskan) Maknanya: semua tanda-tanda kemenangan sudah mulai tampak.
Keimanan yang Murni: Rasulullah صلى الله عليه وسلم lalu mengajaknya masuk Islam. Maka Buraidah dan 70 orang pengikutnya serentak mengucap syahadat, menyatakan keimanan mereka kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. “Seorang pemburu menjadi sahabat”, “Sekelompok pasukan musuh menjadi pembela dakwah”! Mereka mempersembahkan sedikit bekal: susu, yang kemudian diminum bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar r.a. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mendoakan keberkahan untuk ternak mereka.
Membuat Panji Islam dari Sorban: Saat malam menjelang, Buraidah berkata: “Wahai Rasulullah, tidak pantas engkau memasuki Madinah tanpa membawa panji.” Maka ia pun melepas sorbannya, mengikatkannya ke ujung tombak, dan menjadikannya bendera putih yang ia kibarkan di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga Madinah. Ia berjalan paling depan, membuka jalan bagi sang Nabi akhir zaman.
Kelak, Buraidah bin Husaib r.a. sering menceritakan kisah ini sambil berkata: “Segala puji bagi Allah! Bani Suhm masuk Islam tanpa satu tetes darah pun tumpah.” Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun pernah bersabda tentangnya: “Akan ada salah seorang sahabatku yang meninggal di suatu negeri, dan kelak dia akan menjadi cahaya dan pemimpin bagi penduduk negeri itu.” Dan benar, Buraidah wafat di Merv (Turkistan, kini Turkmenistan), dan makamnya menjadi tempat cahaya hingga kini.
TIBA DI QUBA DAN MADINAH: SAMBUTAN YANG MENGGETARKAN LANGIT DAN BUMI: Senin Pagi: Rasulullah صلى الله عليه وسلم Tiba di Quba. Tanggal 8 Rabi‘ul Awwal (Senin), Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar r.a. tiba di Quba, sebuah desa yang terletak sekitar 6 km dari pusat kota Madinah. Di sana, kaum muslimin Quba menyambut beliau dengan penuh tangis dan haru. Mereka telah berhari-hari menanti, setiap pagi keluar ke tepi kota, menengadah menanti kabar dari selatan, lalu pulang dengan hati kosong hingga pagi itu, cahaya kenabian akhirnya datang…
Membangun Masjid Quba: Selama 4 hari di Quba, Rasulullah SAW 1.) Tinggal di rumah Kalthum bin al-Hadam, 2.) Membangun Masjid Quba, masjid pertama dalam sejarah Islam. Allah pun mengabadikan masjid ini: لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ “Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama…” (QS. At-Taubah: 108)
Jumat: Perjalanan Masuk ke Madinah: Pada hari Jumat, 12 Rabi‘ul Awwal, Rasulullah صلى الله عليه وسلم meninggalkan Quba menuju kota Madinah. Dalam perjalanan, waktu salat Jumat tiba di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم berhenti di sana dan mendirikan salat Jumat pertama, dengan khutbah agung yang menyentuh.
MADINAH BERGUNCANG OLEH TAKBIR DAN TANGISAN CINTA: Saat Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendekati gerbang kota… 1.) Seluruh penduduk Madinah lelaki, perempuan, anak-anak keluar menyambut beliau, 2.) Teriakan “Muhammad telah datang! Muhammad telah datang!” menggema di seluruh penjuru. Kaum wanita berdiri di atas atap rumah. Anak-anak melompat kegirangan. Para sahabat menangis.
Sambutan Penuh Cinta: Lagu “Thala‘a al-Badr” Dalam sejarah, para wanita dan anak-anak Anshar menyanyikan sambutan legendaris yang abadi hingga kini:
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
“Telah terbit bulan purnama atas kami dari arah celah Wada”
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَعَا لِلهِ دَاعٍ
“Maka wajib atas kami bersyukur, selama ada yang menyeru kepada Allah.”
أَيُّهَا الْمَبْعُوثُ فِينَا جِئْتَ بِالأَمْرِ الْمُطَاعِ
“Wahai utusan yang diutus kepada kami, engkau datang membawa perintah yang ditaati.”
Tangisan pecah. Semua umat merasa telah disinari oleh cahaya kenabian.
Dimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم Tinggal? Unta Nabi صلى الله عليه وسلم berhenti di tanah milik dua anak yatim, dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Biarkan dia berhenti. Dia diperintah.” Tanah itu pun dibeli dan di situ kelak berdirilah:
Masjid Nabawi,
Rumah Nabi صلى الله عليه وسلم,
Pusat kehidupan spiritual umat Islam hingga hari kiamat.
Penutup: Cahaya Hijrah di Setiap Hati Hijrah Rasulullah صلى الله عليه وسلم bukan sekadar perpindahan geografis, tapi:
Perpindahan dari kegelapan ke cahaya,
Dari pengusiran menuju kejayaan,
Dari air mata menjadi kejayaan umat.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم meninggalkan tanah kelahirannya, demi menyelamatkan iman,
dan dunia pun berubah selamanya.