Sesuai waktu yang diumumkan dalam program harian, rombongan laki-laki dan perempuan berkumpul di depan Rumah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tempat kelahiran Nabi, dan area sekitarnya diperkenalkan. Pada masa Jahiliyah, manusia telah menjadi begitu liar hingga sanggup mengubur anak mereka sendiri; bagian dari tubuh mereka sendiri, hidup-hidup dalam tanah. Dunia sangat memerlukan seorang pembimbing hidayah. Di tempat yang penuh berkah ini, ketika dunia sedang tercekik dalam kegelapan dan kesesatan, lahirlah Nabi Muhammad al-Mustafa صلى الله عليه وسلم, yang telah dijanjikan oleh seluruh nabi sebelumnya, sebagai cahaya bagi semesta alam.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم dilahirkan pada tahun 571 M, pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal, menjelang fajar, di lingkungan Bani Hasyim, di rumah ayahandanya, Abdullah. Dalam kalender Masehi, tanggal itu bertepatan dengan 20 April. Pada saat kelahiran, tugas kebidanan dilakukan oleh Syifa Hatun, ibu dari Abdurrahman bin Auf. Fatimah, ibu dari Utsman bin Abi al-‘Ash r.a, dan pengasuh Nabi, Ummu Aiman r.a, juga membantu. Fatimah yang hadir pada malam itu berkata: “Aku melihat rumah dipenuhi cahaya, dan bintang-bintang seakan turun menimpa kami.” Rasulullah صلى الله عليه وسلم, segera setelah lahir, bersujud dan berkata: “Ummatii, ummatii” (Umatku, umatku). Beliau mengangkat jari telunjuk ke langit dan mengucapkan: “Laa ilaaha illallah, inni Rasulullah.” Kisah ini diriwayatkan oleh bibi Nabi, Sayyidah Shafiyyah r.a.
Kisah Ibu Nabi, Sayyidah Aminah r.ha: Sayyidah Aminah r.a berkata: “Aku tidak mengalami kesulitan seperti para wanita lain saat mengandung. Dalam mimpiku aku diberitahu: ‘Engkau sedang mengandung manusia terbaik dan pemimpin umat ini. Ketika engkau melahirkannya, beri ia nama Muhammad.’ Saat waktunya tiba, aku mendengar suara aneh di telingaku, aku merasa takut. Tiba-tiba datang seekor burung putih yang menyentuh punggungku dengan sayapnya. Ketakutan dan rasa cemas dalam diriku langsung hilang. Kemudian aku melihat sekelilingku, ternyata aku dikelilingi oleh wanita-wanita tinggi yang wajah mereka bercahaya, seperti wanita dari Bani Abdi Manaf. Salah satu dari mereka menopang tubuhku dari belakang.
Aku sangat haus. Lalu salah seorang dari mereka datang mendekat dan memberikan padaku sebuah mangkuk putih berisi minuman. Setelah aku meminumnya, tubuhku terasa dipenuhi cahaya. Minuman itu lebih putih dari susu, lebih dingin dari salju, dan lebih manis dari madu. Pada saat itulah Muhammad صلى الله عليه وسلم lahir. Wanita-wanita itu kemudian memperkenalkan diri. Mereka berkata: ‘Aku adalah Asiyah, isteri Fir’aun; yang ini adalah Maryam, ibu Isa (a.s), dan yang lainnya adalah para bidadari dari surga.”
Peristiwa Besar yang Terjadi pada Hari Senin, Imam Ahmad bin Hanbal (rahimahullah) dalam kitab Musnad-nya meriwayatkan: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم lahir pada hari Senin. Beliau meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya juga pada
hari Senin. Wahyu pertama turun pada hari Senin. Beliau hijrah dari Mekah pada hari Senin. Dan wafatnya pun terjadi pada hari Senin.”
Keajaiban Semesta di Malam Kelahiran Nabi صلى الله عليه وسلم Pada malam saat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dilahirkan, terjadi berbagai kejadian luar biasa di berbagai belahan dunia:
1. Seluruh berhala yang ada di sekitar Ka’bah roboh dan jatuh tertelungkup.
2. Tiang-tiang istana Kisra (penguasa Persia) runtuh.
3. Api yang disembah oleh kaum Majusi selama seribu tahun padam secara tiba-tiba.
4. Danau Sâwah yang selama ini tidak pernah kering, airnya surut dan hilang.
5. Lembah Samawa di jazirah Arab, yang sebelumnya kering, justru dilanda banjir.
Saat peristiwa ini terjadi, bahkan Raja Persia, Kisra Anusyirwan, menjadi sangat gelisah dan ketakutan karena menyadari bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar. Ummul Mu’minin Aisyah r.a berkata: “Di Mekah, ada seorang pedagang Yahudi. Pagi setelah malam kelahiran Rasulullah صلى الله عليه وسلم, ia mendatangi kaum Quraisy, di antaranya ada Hisyam bin Mughirah, Walid bin Mughirah, Utbah bin Rabi’ah, dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya. Ia bertanya: “Apakah tadi malam ada anak yang lahir dari salah seorang kalian? Mereka menjawab: ‘Ya. Anak dari Abdullah bin Abdul Muthalib lahir, dan dinamai Muhammad.’ Mendengar itu, Yahudi tersebut berkata: ‘Itulah nabi terakhir yang kami tunggu-tunggu. Di antara kedua tulang belikatnya terdapat tanda kenabian berwarna kemerahan dan ditumbuhi bulu. Itu adalah ciri kenabiannya.’ Maka kaum Quraisy pun mengajak Yahudi itu menemui Aminah. Ketika ia melihat bayi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan melihat tanda di punggungnya, ia langsung pingsan dan tak sadarkan diri. Setelah ia sadar, mereka bertanya:
‘Apa yang membuatmu seperti ini?’ Ia menjawab: ‘Kenabian telah diangkat dari Bani Israil. Kitab suci pun telah diambil dari tangan mereka. Mereka tidak akan memiliki nabi lagi, dan ulama mereka pun akan kehilangan kehormatan. Ini adalah pengumuman kematian bagi mereka. Bangsa Arab akan mendapat kemenangan dan kejayaan. Berita tentang mereka akan sampai ke seluruh dunia.”
Kebahagiaan Abdul Muthalib & Pemberian Nama “Muhammad”. Abdul Muthalib, kakek Nabi, saat itu sedang duduk di dekat Ka’bah bersama putranya Abu Thalib dan para pemuka Quraisy. Ketika mendengar kabar bahwa putranya (Abdullah) telah mendapat anak lelaki, ia sangat bergembira dan langsung berdiri. Ia pergi bersama rombongan menuju rumah Aminah, dan menggendong cucunya yang wajahnya memancarkan cahaya. Ia membawanya kembali ke Ka’bah, bersujud kepada Allah, dan bersyukur atas anugerah luar biasa ini.
Pada hari ketujuh kelahiran, Abdul Muthalib mengadakan jamuan besar: menyembelih unta dan kambing, dan memberi makan penduduk Mekah selama tiga hari berturut-turut. Ia juga memerintahkan pemotongan hewan di setiap kawasan kota agar semua orang termasuk manusia, hewan buas, dan burung ikut menikmati. Ketika orang-orang bertanya kepadanya: “Apa nama bayi ini?” Ia menjawab: “Muhammad.” Mereka berkata: “Mengapa tidak memberi nama seperti leluhurmu?” Abdul Muthalib menjawab: “Agar dia dipuji di langit dan di bumi.”
Nama-nama Indah Rasulullah صلى الله عليه وسلم Nama-nama paling terkenal dan sering disebut dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah: Muhammad, Ahmad, Mustafa, dan Mahmûd. Di dalam Al-Qur’an, beliau juga disebut dengan banyak nama mulia lainnya, seperti: Rasul, Nabi, Syahid (Saksi), Mubassyir (Pembawa kabar gembira), Nadzir (Pemberi peringatan), Ra’uf, Rahim, Musaddiq, Mudzakkir, Muddatsir, Rahmat, Nikmat, Hadi (Pemberi petunjuk), Nur, Mubin (Yang jelas), Yasin, Taha, Abdullah, Da’i ilallah (Yang mengajak kepada Allah), Siraj Munir (Pelita yang menerangi), dan Khatamun Nabiyyin (Penutup para nabi). Di Masjid Nabawi, pada dinding bagian kiblat, tertulis 204 nama mulia Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Isa a.s. berkata kepada Bani Israil: “Wahai Bani Israil, aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab Taurat
sebelumku, dan memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang setelahku, namanya Ahmad.” (QS. Ash-Shaff: 6). Kunyah (julukan kehormatan) Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah Abul Qasim dinisbatkan kepada putra beliau yang bernama Qasim (yang wafat semasa kecil). Masyarakat Mekah mengenal beliau sebagai al-Amîn (yang terpercaya), karena kejujurannya yang luar biasa.
Masa Kecil & Rumah Tangga Nabi صلى الله عليه وسلم. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghabiskan masa kecil dan remajanya di lingkungan Bani Hasyim, di rumah Abu Thalib (pamannya). Pada usia 25 tahun, beliau menikahi Sayyidah Khadijah r.a., dan pindah ke rumah istrinya yang terletak dekat Bukit Marwah. Di rumah inilah lahirnya 4 putri dan 2 putra beliau dari Sayyidah Khadijah. Selama 7–10 tahun setelah bi’tsah (kenabian), umat Islam mengalami pemboikotan total oleh Quraisy, baik secara ekonomi maupun sosial, di Lembah Abu Thalib. Namun, meski lapar dan terasing, mereka tidak pernah meninggalkan keimanan mereka. Surat perjanjian boikot yang digantung di Ka’bah akhirnya hancur oleh seekor serangga, yang memakan semua tulisan kecuali nama Allah. Maka boikot pun berakhir.
Jabal Abu Qubais – Gunung Suci di Mekah. Terletak di samping Bukit Shafa, dikenal dengan sebutan Ummul Jibal (Induk Gunung). Mukjizat Terbelahnya Bulan Pada tahun ke-8 kenabian, orang-orang Quraisy menantang Rasulullah صلى الله عليه وسلم: “Jika engkau benar-benar seorang nabi, tunjukkan mukjizat dari langit! Belahlah bulan itu!” Maka pada malam tanggal 15 bulan (bulan purnama), Rasulullah صلى الله عليه وسلم naik ke atas Gunung Abu Qubais. Beliau shalat dua rakaat, lalu mengangkat jari telunjuk ke langit. Bulan pun terbelah dua: satu bagian berada di balik Jabal Abu Qubais, dan satu lagi ke arah utara, di balik Bukit Bani Qaynuqa’. Lalu keduanya kembali bersatu. Orang Quraisy tetap tidak percaya. Mereka berkata: “Mungkin ini sihir. Kita tunggu kabar dari luar kota!” Dan benar, keesokan harinya datang kabar dari para kafilah bahwa bulan memang
terbelah pada malam itu. Allah mengabadikan kejadian itu dalam QS. Al-Qamar: 1:
“Kiamat telah dekat, dan bulan pun telah terbelah.”
Hajar Aswad Pernah Disimpan di Gunung Ini. Saat banjir besar di masa Nabi Nuh a.s., Ka’bah diangkat ke langit oleh Allah, dan Hajar Aswad disimpan oleh Malaikat Jibril di Gunung Abu Qubais. Ketika Nabi Ibrahim a.s. membangun kembali Ka’bah bersama putranya Ismail a.s., mereka membutuhkan sebuah batu penanda untuk mulai dan mengakhiri thawaf. Ismail mencari batu, tapi tak ada yang cocok. Tiba-tiba terdengar suara dari gunung: “Wahai Ibrahim, datanglah kepadaku! Titipan / amanahmu ada padaku!” Maka Ibrahim mengambil kembali Hajar Aswad dari gunung ini dan meletakkannya di tempat yang sekarang. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda: “Hajar Aswad turun dari surga. Dahulu lebih putih dari susu, namun dosa-dosa manusia menjadikannya hitam.”
I like the valuable info you provide in your articles. I’ll
bookmark your blog and check again here regularly.
I am quite sure I will learn plenty of new stuff right here!
Best of luck for the next!
Hi, I do believe this is a great blog. I stumbledupon it
😉 I’m going to come back yet again since i have book-marked it.
Money and freedom is the greatest way to change, may you
be rich and continue to help others.