SHALAT TARAWIH

Rasulullah Saw bersabda, “Bulan Ramadhan yang pernuh dengan berkah telah datang kepada kalian. Allah Swt menurunkan banyak rahmat-Nya kepada kalian pada bulan ini, menghapus dosa-dosa, mengabulkan doa-doa yang dilakukan di bulan ini. Allah Swt ingin melihat dan menyaksikan kalian berlomba-lomba dalam kebaikan, dan membanggakan para hamba-Nya kepada Para Makaikat.”

Shalat tarawih merupakan sebuah shalat sunah muakkadah yang terdiri dari dua puluh rakaat yang hanya dilaksanakan pada malam di bulan Ramadan. Rasulullah Saw dan para Khulafaur Rasyidin (ridhwanullah alaihim) juga melaksanakan shalat ini. Melaksanakan shalat tarawih secara berjama’ah merupakan sunah kifayah. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawih di rumah (tanpa adanya uzur untuk pergi ke masjid), sedangkan di masjid dilaksanakan shalat tarawih secara berjamaah, maka dia telah meninggalkan fadilah dari shalat tarawih yang dilaksanakan di masjid.

Melaksanakan shalat tarawih dengan memberi salam setiap dua rakaatnya, sehingga dalam dua pulah rakaat ada sepuluh kali salam, adalah lebih berfadilah.

Cara melakasanakan shalat tarawih dengan memberikan salam setiap dua rakaatnya persis seperti melaksanakan shalat sunah (ba’diyah) maghrib.

Ketika melaksanakan shalat tarawih secara berjama’ah, makmum harus berniat mengikuti imam sekaligus shalat Tarawih. Dan imam membaca bacaan dengan keras.

Untuk memilih imam shalat tarawih, kita harus memilih imam yang qiraat (bacaan)nya baik dan benar, bukan yang hanya suaranya bagus atau yang dapat membaca dengan cepat.

Apabila ada orang yang baru datang ke masjid, sedangkan imam dan jama’ah telah melaksanakan shalat isya dan memulai shalat tarawih, maka orang tersebut harus melaksanakan shalat isya terlebih dahulu, lalu meneruskan shalat tarawih dengan imam. Kemudian menyempurnakan raka’at yang kurang tadi dan meneruskannya dengan shalat witir.

Orang yang shalat tarawih secara munfarid, boleh melaksanakan shalat witir berjamaah dengan imam.

Apabila Imam dan Makmum tidak melaksanakan shalat Isya secara berjamaah, maka shalat tarawih pun tidak bisa mereka laksanakan secara berjama’ah. Karena dilakukannya shalat tarawih secara berjamaah, mengikuti/tergantung kepada shalat isya yang dilakukan secara berjama’ah.

Shalat tarawih bukan lah merupakan sunnah puasa, melainkan sunnah di bulan Ramadan. Apabila ada orang yang tidak dapat berpuasa karena sebuah halangan/udzur, maka selama dia mampu mengerjakan shalat tarawih maka dia disarankan untuk mengerjakannya.

Abdul Jalil (477)

Diamku الله Gerakku مُحَمَّد. Wong Lamongan, S1 di Psikologi UGM. I'm free man & traveler all id: abilngaji

About Abdul Jalil

Diamku الله Gerakku مُحَمَّد. Wong Lamongan, S1 di Psikologi UGM. I'm free man & traveler all id: abilngaji
This entry was posted in Ngaji. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.